KESEDERHANAAN SANG GEMBALA

Oleh Frederica Lisa

”Sederhana dalam penampilan dan berkata-kata”. Inilah kesan pertama ketika redaksi Laudate Montes berbincang-bincang dengan Pastor Kepala  Paroki kita yang baru ini. Pastor kelahiran Pagal (Manggarai) – Flores tanggal 19 Februari 1948 ini mempunyai nama lengkap Pastor Yohanes Ladju, beliau akrab dipanggil Pater Yan Ladju. Pater Yan ternyata mempunyai hobi yang sederhana, yaitu bercocok tanam, terutama tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan.

Pada Selasa, 16 Januari, Redaksi Laudate Montes mewawancarai Pater Yan agar kita, umat Paroki St. Joseph bisa lebih mengenal Pastor Paroki kita yang baru ini, yang telah menerima tahbisan imamatnya pada tanggal 9 April 1978 di Gereja Katedral, Bogor.

 

Apa yang menjadi alasan Pater ditugaskan ke paroki St. Joseph, Sukabumi dan mengapa Pater yang dipilih oleh Bapak Uskup, karena selama ini kami melihat bahwa Pastor yang bertugas di Sukabumi kebanyakkan dari Projo Bogor, sedangkan Pater adalah seorang Pastor dari OFM?

Alasan utama saya diminta oleh Bapak Uskup untuk bertugas di Sukabumi adalah untuk mengisi kekosongan Pastor Kepala Paroki di Sukabumi, karena Rm. Agust diminta untuk bertugas di Penerbit Obor, Jakarta. Sebelumnya saya bertugas sebagai Pastor Pembantu di Paroki St. Paulus, Depok. Saat ini di Paroki St. Paulus, Depok, sudah ada tiga tenaga pastor OFM, sehingga dapat membantu Pastor Paroki dalam melayani umat di paroki tersebut, sehingga saya bisa meninggalkan paroki St. Paulus.

Pandangan apa yang pernah Pater dengar mengenai umat di Paroki St. Joseph, Sukabumi?

Nol persen. Saya tidak ada bayangan sama sekali mengenai umat di sini, karena dalam kontrak tugas, setelah 15 tahun berkarya di Keuskupan Bogor (juga untuk mendampingi para Pastor Projo di Keuskupan Bogor), para Pastor OFM sudah harus pergi dari Keuskupan Bogor. Pelayanan OFM tidak terikat lagi di Keuskupan Bogor karena saat ini pendampingan para Pastor Projo sudah dianggap memberikan hasil.  Sebenarnya dulu, saya bukan ditugaskan di Depok Lama, seharusnya saya berkarya ke Birma, tetapi batal karena alasan kesehatan. Dulu, tahun 1970 ketika masih menjadi frater, saya pernah berkunjung ke Sukabumi dan pada waktu itu pastorannya masih di jalan R.E Martadinata.

Apa tugas yang hendak Pastor capai dalam menggembalakan umat di Paroki St. Joseph, Sukabumi?

Saya tidak ingin berandai-andai. Langkah pertama yang akan saya lakukan adalah saya mau ’masuk dan lihat dulu’ paroki ini. Hal-hal kerohanian akan menjadi fokus perhatian saya. Saya akan memperhatikan bidang kehidupan rohani umat di paroki ini, karena hal tersebut lebih mudah terjangkau. Saya juga sudah melihat hal-hal kerohanian di gereja ini. Yang menarik bagi saya minimal ada 30 orang yang mengikuti Misa harian di gereja, ini merupakan kekayaan umat.

Tolong gambarkan sedikit dengan kata-kata, karakteristik Pater Yan….

Saya adalah type orang yang sangat berhati-hati, saya tidak cepat mengatakan ya atau tidak. Saya adalah seseorang yang tidak ingin terburu-buru. Saya senang jika seseorang mempunyai argumentasi dan alasan yang baik, saya akan menghargai hal tersebut. Sifat saya sederhana. Homili saya pun tidak akan jauh-jauh dari teks liturgi.

Apa prinsip-prinsip Pater Yan di dalam menjalankan tugas-tugas pelayanan?

Kesetiaan dan menghargai orang kecil.

Pater adalah seorang Pastor senior. Selama menjadi seorang leader dalam suatu paroki, hambatan apa yang pernah Pater alami?

Menurut saya hambatan yang paling susah bisa saya lihat dari 2 sisi, yaitu Pertama, dari diri seorang Pastor. Pastor mempunyai kecenderungan merasa dirinya ’lebih tahu’. Yang kedua, dari diri umat sepertinya ada demokrasi dalam rangka penghayatan iman. Padahal sebenarnya dalam penghayatan iman, tidak ada demokrasi. Contoh konkritnya, suasana di masyarakat dimasukkan ke dalam penghayatan iman, apa yang sebenarnya terjadi di luar gereja hendak dimasukkan ke dalam penghayatan iman. Selain hambatan dari sisi umat tersebut, saya juga melihat sisi positif dari umat, bahwa umat sekarang sangat menggereja. Saya juga melihat bahwa umat Sukabumi menggereja.

Semoga hasil wawancara ini dapat menjembatani umat paroki St. Joseph, Sukabumi untuk lebih mengenal Pastor Paroki kita yang baru ini. Semoga kehidupan menggereja umat Sukabumi dapat semakin hidup dan berkembang dan selamat datang kepada Pater Yan Ladju….selamat berkarya di paroki kami yang terinta ini.

Sumber: Laudate Montes Edisi Februari 2007

 

Foto di atas diambil saat Pater Yan Ladju OFM (kiri) tiba di Sukabumi awal Jan 2007 untuk mulai bertugas menggantikan saya (kanan) sebagai Pastor paroki St. Joseph Sukabumi. Serah terima tugas terjadi dalam ekaristi hari Sabtu, 3 Februari 2007, yang dipimpin oleh Mgr. Michael Cosmas Angkur OFM, Uskup Bogor saat itu.

Pergantian tugas ini amat menarik. Pater Yan saya kenal saat ia menjalani tahun pastoral menjelang tahbisannya di Bogor. Saya juga merupakan salah seorang muridnya di kelas III SMA Regina Pacis Bogor, tahun 1978.

Setelah berkarya 4 tahun di Sukabumi, Pater Yan pindah ke Wisma Transitus, Depok, Jawa Barat, mengampu tugas sebagai Penanggung Jawab Pusat Spiritualitas Fransiskan dan Pendamping Nasional Ordo Fransiskan Sekular. Rabu, 19 Juli 2017, ia ditemukan sudah meninggal dunia saat dibangunkan untuk memimpin misa pagi di komunitas tempatnya tinggal selama 7 tahun terakhir.

Selamat jalan sahabatku, saudara seimamatku, dan guruku. Jadilah pendoa bagiku yang masih berjuang dalam peziarahan hidupku di dunia ini.

(Agustinus Surianto Himawan)

3 respons untuk ‘In Memoriam: Pater Yan Ladju OFM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s