Keuskupan Bogor adalah sebuah keuskupan kecil di bagian barat Pulau Jawa, meliputi Propinsi Banten dan sebagian Propinsi Jawa Barat. Luas wilayahnya sekitar 18.368 kilometer persegi, dengan 14 juta jiwa penduduk, mayoritas beragama Islam (98%). Warga yang beragama non Islam hanya 2% dari total penduduk, di mana 60.000 jiwa merupakan umat katolik (0,4%).

Latar Belakang Sejarah

Kelahiran Keuskupan Bogor dibidani oleh para Misionaris Fransiskan, yang sejak awal mula berusaha untuk menjalin kontak dan kerja sama dengan mayoritas penduduk yang beragama Islam. Semangat persaudaraan ini tetap dipertahankan oleh Pimpinan Keuskupan Bogor sampai sekarang, melalui karya di bidang pendidikan/pelatihan sumber daya manusia, bidang kesehatan, dan bidang-bidang pelayanan sosial lainnya.

Keuskupan Bogor memiliki dua buah seminari tempat pembenihan calon-calon gembala umat. Seminari Menengah Stella Maris di Kota Bogor menyiapkan tunas-tunas muda di awal pembenihan calon-calon imam dan biarawan untuk Keuskupan-keuskupan, Ordo, dan Tarekat. Jumlah seminarisnya berkisar antara 80 – 120 orang. Sedangkan yang kedua adalah Seminari Tinggi Santo Petrus & Paulus di Kota Bandung, yang khusus menyiapkan calon-calon imam diosesan untuk Keuskupan Bogor. Seminari Tinggi ini didirikan oleh Mgr. N.J.C. Geise OFM (Alm) dan Mgr. Ignatius Harsono Pr (Alm) pada tahun 1969.

Uniknya, Seminari Tinggi ini didirikan tanpa gedung. Empat frater calon imam praja Keuskupan Bogor untuk sementara dititipkan di Asrama Providentia (Jl. Anggrek 60 Bandung), yang dipimpin pada waktu itu oleh Sr. Birgitta OSU. Awal 1970 ada dua calon imam lagi yang terpaksa dititipkan pada keluarga Bp. A.P. Sugiarto di Jalan H. Syamsudin, Bandung. Kemudian pada tanggal 1 Maret 1970 keenam frater ini digabungkan dalam satu rumah kontrakan di Jalan Sempurna 15, Bandung. Di tempat ini mereka didampingi oleh keluarga Bp. A.P. Sugiarto. Sedangkan Romo Ignatius Harsono bertindak sebagai rektornya.

Bangunan asrama di Jalan Buah Batu 178-H (sekarang Suryalaya 7) baru dibangun pada tahun 1973. Pada bulan April 1974 gedung yang belum selesai dibangun ini terpaksa digunakan, sekalipun belum ada aliran listriknya. Kawasan sekitarnya masih merupakan persawahan. Gedung baru yang hanya memiliki 10 kamar tidur seminaris, 2 kamar tidur tamu, sebuah kapel sangat kecil, sebuah ruang makan, dan sebuah ruang konferensi ini diberkati pada pertengahan 1974, persis setelah para frater menyelesaikan tentamen (ujian) semesterannya.

Menjadi Seminari Interdiosesan

Seminari Tinggi Petrus Paulus mengawali keberadaannya dengan hanya 4 orang frater calon imam. Namun, dalam perkembangan berikutnya yang terjadi amatlah di luar dugaan. Seminari ini pernah dihuni oleh 35-40 frater calon imam pada dekade delapanpuluhan. Mereka hidup dan tinggal dalam kondisi sederhana, bahkan boleh dikatakan berhimpit-himpitan, menyiapkan diri sebaik-baiknya untuk menjadi gembala-gembala umat yang baik.

Dalam kenyataan, Seminari Tinggi ini tidak hanya menyiapkan dan mendidik calon-calon imam diosesan untuk Keuskupan Bogor. Ada 169 calon imam yang pernah tinggal di Seminari ini dalam kurun waktu 1969-2001 (data ketika tulisan ini dibuat pada tahun 2002).

Sampai tahun 2002 yang berhasil menjadi imam ada 61 orang, masing-masing untuk Keuskupan Bandung (5), Keuskupan Padang (2), Keuskupan Tanjungkarang (1), Keuskupan Sintang (2), Keuskupan Ketapang (4), Keuskupan Jayapura (1), Keuskupan Sorong (1), Keuskupan Merauke (1), dan Keuskupan Bogor sendiri (44). Calon-calon untuk Keuskupan Purwokerto dan Palembang semuanya berguguran di tengah perjalanan persiapan imamat.

Sebelum gedung gereja Paroki Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria, yang dikenal sebagai Paroki Buah Batu Bandung didirikan, selama satu dasawarsa Seminari Tinggi Petrus Paulus menyediakan ruangan untuk umat merayakan ekaristi setiap Hari Minggu dan Hari Raya. Setiap Sabtu sore, para frater bersama beberapa umat setempat, harus menyulap ruang makan dan sebagian halaman menjadi gereja umat.

Waktu terus berputar tanpa kompromi, meninggalkan masa kini menjadi masa lalu. Gereja Buah Batu telah berdiri dengan megah. Keuskupan-keuskupan yang dulunya menitipkan para calon imamnya di Seminari Tinggi ini telah membangun gedung-gedung Seminari Tinggi yang memadai dengan berbagai fasilitas penunjang yang layak untuk mendidik calon-calon gembala umat di millennium baru ini. Para lulusannya telah banyak yang ‘menjadi orang’, bahkan sebagian dari para imamnya kini menjadi staf pimpinan di berbagai Keuskupan tersebut. Sedangkan Seminari Tinggi Petrus Paulus masih tetap seperti dulu, rumah tua yang sangat sederhana, yang semakin renta ditelan zaman. Dia telah menjadi monumen sejarah pendidikan calon-calon imam praja di berbagai Keuskupan.

Pembangunan Gedung Baru

Pada tahun 1999, Seminari Tinggi ini mendapat kunjungan utusan Kongregasi Suci untuk Seminari, yaitu Mgr. Petrus Chang dari Malaysia, dan Mgr. Martinus Situmorang OFMCap dari Keuskupan Padang. Saat itu dibicarakan pula tentang kemungkinan untuk membangun dan memperluas gedung seminari yang kecil dan sumpek ini. Beberapa waktu sebelumnya, Mgr. Michael Cosmas Angkur OFM, bersama sekelompok imam yang pernah dididik di Seminari Tinggi Petrus Paulus menggagaskan rencana untuk membangun dan memperluas gedung Seminari Tinggi beserta Kapelnya. Gedung sempit dan tua yang usianya sudah mendekati tiga dasawarsa dianggap tidak memadai lagi untuk mendidik dan menyiapkan calon-calon imam bagi masa depan Gereja.

Rencana pembangunan gedung seminari tinggi yang baru dimatangkan dengan pembentukan panitia pada akhir tahun 2001. Pembangunan direncanakan dimulai awal 2002 dan selesai pada waktu pelaksanaan puncak Sinode 2002, bulan Oktober, bertepatan dengan pesta sewindu tahbisan Uskup Michael. Namun, rencana seringkali memang sulit untuk dikerjakan. Ada banyak kendala yang menjadikan pembangunan ini tertunda setahun lamanya. Peletakan batu pertama oleh Mgr. Michael Angkur OFM baru dilaksanakan pada tanggal 7 Februari 2003. Gedung seminari yang baru ini selesai dibangun pada akhir tahun 2003.

Beberapa alasan yang menjadi pertimbangan dibangunnya gedung baru Seminari Santo Petrus & Paulus milik Keuskupan Bogor di kota Bandung:

Agar tersedia tempat yang lebih memadai untuk mendidik dan menyiapkan calon-calon imam diosesan melalui Seminari Tinggi Santo Petrus & Paulus. Sebuah Seminari Tinggi yang dapat mengakomodasi berbagai kebutuhan dari sekitar 30-40 orang calon imam, beserta 4-6 orang formator, yang nantinya juga diharapkan dapat turut ambil bagian sebagai tenaga pengajar di Universitas Katolik Parahyangan, yang pendiriannya dibidani oleh Mgr. Prof. Dr. N.J.C. Geise OFM, Uskup Bogor pertama.

Agar Seminari Tinggi ini dapat menjadi tempat pendidikan calon-calon imam, yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang, seperti kapel, ruang doa, perpustakaan, ruang studi & komputer, ruang rekreasi & konferensi yang memadai, dan lain-lainnya.

Keuskupan Bogor ingin memiliki sebuah Seminari Tinggi yang mampu mengakomodasi kebutuhan pelayanan gereja di masa depan, yang menuntut tersedianya human assets yang berkualitas, sebagai imam-imam gembala umat yang suci, pandai, dan bijaksana.

Agustinus Surianto Himawan

(naskah ini ditulis tahun 2002 untuk situs Keuskupan Bogor  www.keuskupanbogor.org dan kemudian dimodifikasi sedikit agar lebih sesuai sikonnya, namun data seminaris hanya sampai awal 2002)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s