KONGREGASI SUSTER MISERICORDIA

Congregation des Soeurs de Sainte Marie Madeleine Postel

(Sorores Mariae Magdalena Postel)

“Mencintai Allah tanpa batas dan berusaha sekuat tenaga agar Ia dicintai”, sebuah kalimat ajakan dari St. Maria Magdalena Postel (1756-1846) yang telah menginspirasi begitu banyak pemudi untuk memilih jalan hidup berbeda dari kebanyakan orang, melalui hidup membiara.

Dalam karya kerasulannya sebagai biarawati, para Suster Misericordia dipanggil untuk hidup di tengah dunia. Semangat kesiap-sediaan dan keberanian memberi kesaksian melalui hidup jujur, rendah hati, lemah lembut, berkorban untuk kebahagiaan yang miskin, menderita, dan sakit, menjadi pegangan hidup mereka semua.

Kabar gembira Kristus diwujudkan melalui penghayatan hidup bersama, yang terarah pada perutusan, di mana doa dan karya demi Kerajaan Allah tak terpisahkan.  Hal itu selaras dengan kharisma Kongregasi Suster Misericordia: Hidup bagi Allah dan pelayanan bagi sesama, khususnya bagi mereka yang menderita.

Semangat Belas Kasih Julie Postel

Santa Maria Magdalena Postel, inspirator pendirian Kongregasi Para Suster Misericordia dilahirkan di Barfleur, Normandia, Prancis, 28 November 1756, dengan nama Julie Françoise Catherine Postel, sebagai anak sulung pasangan Jean Postel dan Thérèse Levalois. Setamat pendidikan dasar, ia menghabiskan masa remaja dalam tradisi pendidikan yang ketat dari para biarawati Benediktin di Valognes.

Masa itu dikenal sebagai zaman kegelapan bagi kekristenan di Prancis, Julie Postel tergerak untuk mengabdikan hidupnya untuk melayani Allah dan sesama. Ada banyak orang miskin dan menderita di sekelilingnya yang membutuhkan uluran tangan sesamanya.

Selesai Pendidikan ia kembali ke kampung halamannya. Julie Postel yang masih berusia 18 tahun itu mendirikan sekolah sederhana untuk anak-anak perempuan miskin di La Bretonne.

Julie Françoise Catherine Postel, dikenal sebagai Santa Maria Magdalena Postel

Meletusnya Revolusi Prancis (1789-1799) membawa dampak luas bagi kehidupan banyak orang. Slogan Liberté, égalité, fraternité juga disuarakan dalam kehidupan menggereja. Konflik berkepanjangan antara elit kerajaan dan masyarakat, antara elit gereja dan masyarakat, telah membawa banyak korban.

Namun, situasi ini seakan menjadi pemacu semangat Julie Postel untuk membulatkan niat bekerja bagi kemanusiaan, menyelamatkan para imam yang dipersekusi, mendampingi umat beriman ‘klandestin’, membantu mereka miskin, sakit dan menderita.

Julie Postel bergabung menjadi anggota Ordo Ketiga St. Fransiskus pada 13 Februari 1798. Santo Fransiskus Assisi, sang pendiri komunitas para Fransiskan & Fransiskanes memang dikenal sebagai pribadi yang punya perhatian istimewa terhadap orang miskin, orang kecil dan mereka yang menderita.

Semangat ini ingin dihayati oleh Julie Postel dengan membaktikan diri tanpa batas bagi orang lain, teristimewa bagi mereka yang terdesak kebutuhan dan tak berdaya. Melayani, mendidik, merawat, menyemangati mereka dengan cinta akan Allah, dan semangat kerja, mengorbankan diri untuk membantu para miskin dan meringankan nasib mereka sedapat mungkin.

Dari Prancis Menebarkan Kasih

Perjanjian damai (Concordat 1801) antara Paus Pius VII dan Napoleon Bonaparte yang ditandatangani pada 15 Juli 1801 mengubah suasana hidup menggereja menjadi stabil kembali.

Pada 8 september 1807 di Cherbourg, Prancis, Julie Postel bersama beberapa sahabatnya, Catherine Bellot, Marie Viel dan Angélique Ledanois mendirikan komunitas Pauvres Filles de la Miséricorde. Nama lainnya Congrégation des Sœurs des Écoles Chrétiennes (Kongregasi Suster Sekolah Kristen yang Berbelas Kasih, Sisters of the Christian School of Mercy). Dalam bahasa Latin dinamai Institutum Sororum Scholarum Christianorum a Misericordia.

Julie Postel mengganti nama dengan nama biara, menjadi Marie Madeleine, sehingga kemudian dikenal sebagai Suster Marie Madeleine Postel, Maria Magdalena Postel. Rumah induk komunitasnya pada 1832 berpindah ke biara tua para suster Benediktin yang sudah rusak parah dan tidak digunakan di Saint Sauveur le Vicomte. Sebelum menetap di sini, mereka harus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Biara para suster Benediktin yang sudah hampir runtuh di Saint Sauveur le Vicomte setelah dipugar menjadi domisili menetap para suster. Tempat ini sampai sekarang menjadi rumah induk para suster Miscericordia Cabang Prancis.

Pada mulanya, sebagai panduan hidup berkomunitas para suster menggunakan Anggaran Dasar Ordo Ketiga St. Fransiskus. Namun pada 1837 otoritas gereja setempat menggantinya dengan Anggaran Dasar  Kongregasi Bruder St. Yohanes de la Salle (FSC, Fratres Scholarum Christianarum) yang didirikan di Prancis oleh Jean-Baptiste de La Salle.

Paus Pius IX mengukuhkan kongregasi ini sebagai Kongregasi Religius Tingkat Kepausan pada 29 Agustus 1859. Konstitusinya disetujui oleh Tahta Suci pada tahun 1920.

Mère Maria Magdalena Postel meninggal karena usia lanjut di biara induk Saint-Sauveur-le-Vicomte pada tanggal 16 Juli 1846. Saat itu Kongregasi Suster Misericordia yang didirikannya telah berkembang pesat dengan 37 komunitas cabang dengan 150-an suster dan 20-an novis.

Suster Placida Viel, yang juga keponakan dari Julie Postel, menggantikannya sebagai Pemimpin Umum. Mère Viel membuka biara pertama di Jerman pada 1862 di Heiligenstadt.

Patung St. Maria Magdalena Postel di Basilika Trinitas (Basilique de la Trinite) di Cherbourg, kota tempat kelahiran Kongregasi Suster Misericordia

Maria Magdalena Postel dibeatifikasi oleh Paus Pius X pada 17 Mei 1908. Dikanonisasi sebagai orang suci oleh Paus Pius XI pada 23 Mei 1928. Perayaannya dalam kalender liturgi ditetapkan setiap tanggal 16 Juli.

Placida Viel meninggal pada 4 Maret 1877 di biara induk Saint Sauveur le Vicomte saat usianya baru 62 tahun. Dibeatifikasi oleh Paus Pius XII pada 1951. Perayaannya setiap tanggal 4 Maret.

Satu Menjadi Dua

Dampak Perang Dunia Pertama dialami juga oleh para suster. Pertumbuhan biara-biara yang berkembang pesat dihambat oleh situasi peperangan.

Komunitas biara-biara mereka di Jerman yang dirintis sejak 1862 oleh Beata Placida Viel, Pemimpin Umum yang menggantikan Maria Magdalena Postel, akhirnya harus terpisah dari induk kongregasinya di Prancis. Mereka membentuk cabang yang otonom dengan generalatnya sendiri sejak 1920.

Kapel St. Maria Magdalena Postel yang ada di Biara Induk di Saint Sauveur le Vicomte, Prancis

Cabang Prancis melalui Belanda melebarkan karya sampai ke Indonesia (1929), Kongo (1958) dan Filipina (1964).

Dari Prancis kemudian meluas juga ke Inggris Raya, India, Irlandia, Italia, dan Pantai Gading. Nama resminya saat ini Congregation des Soeurs de Sainte Marie-Madeleine-Postel. Nama latinnya Sorores Mariae Magdalenae Postel (SMMP).

Menurut data 2017 Cabang Prancis memiliki 252 suster yang tersebar di 48 komunitas, yaitu Prancis, Irlandia, Italia, Belanda & Inggris Raya (Eropa); Pantai Gading & Kongo (Afrika); serta India & Indonesia (Asia). Komunitas di Filipina berakhir sekira pertengahan 80-an. Biara induknya sebagai Generalat di Saint-Sauveur-le-Vicomte, Prancis, biara awal yang dihuni sejak 1832.

Biara Induk di Saint Sauveur le Vicomte, yang dimiliki sejak 1832 dan mengalami beberapa kali pemugaran, menjadi Generalat Cabang Prancis dari Kongregasi SMMP atau Suster Misericordia

Di Belanda panggilan hidup monastik bagi wanita muda pada dekade 50 sampai 60-an masih banyak. Biara dan karya para suster berkembang terus. Tahun 1964 mereka menjadi provinsi mandiri. Setelah berbagai usaha pembaruan, akhirnya pada tahun 1985 mereka mempunyai konstitusi sendiri. Namanya pun kemudian lebih dikenal sebagai Zuzters van Julie Postel.

Namun panggilan semakin menyusut. Zaman terus berubah, cara menghayati kehidupan juga berubah mengikuti perkembangan peradaban. Kini yang tersisa adalah para suster lansia dengan rata-rata usia 86 tahun, yang dengan segala keterbatasannya tetap menghadirkan Allah dalam hidupnya sebagai religius, menghayati spiritualitas dan kharisma kongregasi. Masih ada satu, dua orang yang tetap bisa bekerja sebagai voluntir.

Nah, jangan-jangan di kota Boxmeer yang lengkap dengan rumah lansia St. Anna ini jugalah kelak berakhirnya kongregasi Zuzters van Julie Postel ini. Boxmeer menjadi tempat kelahiran, sekaligus tempat berakhirnya karya besar mereka sejak 18 Oktober 1886 (bdk. Interview met Zuzter Annelies Roelandt, Regionale Overste van de Zuzter van Julie Postel, 13 April 2019, di www.vvhm.nl).

Seorang suster SMMP di Jerman tersenyum sumringah setelah ada informasi baru bahwa biara mereka dibuka kembali untuk kunjungan publik per 21 Mei 2021. Tentu dengan pembatasan sesuai protokol kesehatan yang diberlakukan selama pandemi covid-19 (foto: http://www.smmp.de)

Sedangkan dari Cabang Jerman (www.smmp.de) para suster bermisi ke Bolivia (1924), Brazil (1937), Rumania (1938), dan Mozambik (1998). Cabang Jerman menggunakan nama resmi Kongregasi Schwestern der heiligen Maria Magdalena Postel, atau Sorores Mariae Magdalenae Postel (SMMP).

Menurut data 2017 Cabang Jerman memiliki 301 suster yang tersebar di 57 komunitas, yaitu Jerman & Rumania (Eropa); Bolivia & Brazil (Amerika); serta Mozambik (Afrika). Biara induknya di Heilbad Heiligenstadt, Thuringia, Jerman.

Suster Misericordia di Indonesia

Kehadiran Kongregasi Suster Misericordia di Indonesia pada tahun 1929 dirintis oleh para suster misionaris dari Congregatie van de Zusters van Barmhartigheid asal negeri Belanda. Saat ini lebih populer dengan nama Congregatie van de Zusters van Julie Postel, Sisters of Julie Postel (www.juliepostel.nl).

Cikal bakalnya adalah  Congrégation des Sœurs de Sainte Marie-Madeleine-Postel di Prancis (www.mmpostel.com). Sejarah bermula saat Pastor Wellesen, seorang imam Karmelit di Boxmeer menyurati Superior Jenderalnya di Prancis, memohon tenaga suster yang dapat membantu menangani wabah tifus yang menjangkiti kaum miskin di sana

Julie Postel mengawali karya cinta kasihnya dengan mendirikan sekolah sederhana untuk anak-anak perempuan miskin di La Bretonne

Menurut Karel A. Steenbrink (Catholic in Indonesia 1808-1942: A Documented History) kongregasi ini lahir di kota kecil Boxmeer di Brabant Utara, Belanda, 18 Oktober 1886, kemudian dengan pesat berkembang ke berbagai kota di Belanda. Karya utamanya adalah bidang kesehatan melalui berbagai klinik, rumah sakit, dan perawatan lansia, serta karya pendidikan.

Mengawali Karya di Malang

Para Suster Misericordia (d.h. Zusters van de Christelijke Scholen van Barmhartigheid) hadir di Indonesia karena diundang oleh Keuskupan Malang untuk membantu pelayanan pastoral orang sakit.

Para suster diberi kepercayaan mengelola sebuah klinik pribadi milik Prof. Leber, seorang dokter non-Katolik, di daerah Sawahan, Malang, yang kemudian diubah menjadi rumah sakit kecil bernama Rooms Katholiek Ziekenhuis (RKZ) St. Maria Magdalena Postel.

Pada 26 Februari 1956 RKZ St. Maria Magdalena Postel secara resmi berganti nama menjadi Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan. Mengikuti perkembangan zaman rumah sakit ini terus berkembang semakin baik dalam pelayanannya. Konsep Green Hospital diterapkan dalam pengelolaan RS Panti Waluya Sawahan sebagai rumah sakit berwawasan lingkungan dengan pelayanan paripurna berbasis kenyamanan dan keamanan lingkungan.

Saat para suster berkumpul makan bersama di biara RS Panti Waluya, Malang
Suster M. Fulgentia Misc dari Manggarai, Flores, NTT, memilih mengabdikan hidupnya melalui Kongregasi Misericordia. Salah seorang kakaknya, Rama Laurens Sopang, merupakan pastor diosesan dari Keuskupan Ruteng

Pada masa transisi sosial-politik di Indonesia yang baru beberapa tahun merdeka, para Suster Misericordia diberi tambahan tugas oleh Mgr. A.E.J. Albers O.Carm untuk mengelola Rumah Sakit Tiong Hwa Ie Sia (RS-THIS) sejak 1952. RS-THIS adalah sebuah rumah sakit swasta yang berdiri sejak 1 Oktober 1929, yang dimiliki oleh perkumpulan orang-orang Tionghua di Malang. Dengan semangat kerja yang tinggi, didukung oleh spiritualitas pelayanan yang kuat, para suster berhasil mengembangkan rumah sakit ini. Mereka juga mendapat dukungan dari Pastor Joseph Wang CDD, misionaris Katolik asal Taiwan.

Pelayanan para suster misericordia di RS THIS, kemudian berganti nama menjadi RS Panti Nirmala, berlangsung selama 36 tahun sampai 1988. Tugas mereka kemudian dialihkan kepada Kongregasi Suster Pasionis (CP).

Selain melayani mereka yang sakit melalui RS Panti Waluya, para Suster Misericordia juga ambil bagian menyiapkan tenaga-tenaga terampil di bidang keperawatan melalui Yayasan Pendidikan Misericordia. Cikal bakalnya adalah LPK Djuru Kesehatan yang didirikan pada tahun 1955, kemudian bermetamorfosis menjadi Sekolah Perawat Kesehatan SPK Panti Waluya (1980), Akper Panti Waluya (1997), serta Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Panti Waluya (2018).

Para suster menikmati hari tua di Biara Komunitas Provinsialat, Jayagiri, Malang. Tentu harus ada yang muda untuk mendampingi para senior yang telah mengabdikan diri puluhan tahun bagi sesama demi mewujudkan cita-cita St. Maria Magdalena Postel, Ibu Pendiri Kongregasi.
Kebahagiaan tersendiri tentunya bagi para suster ketika mendapat kehormatan dikunjungi tamu, Rama FX Sutanto (pastor diosesan dari Keuskupan Bogor, Jawa Barat) sambil makan bersama di Biara Jayagiri

Di Indonesia para Suster Misericordia hanya berkarya di Keuskupan Malang dan Keuskupan Ruteng (Flores, NTT).

Di Keuskupan Malang para suster memiliki 11 komunitas: Provinsialat Jayagiri, Novisiat di Lawang, RS Panti Waluya, Klinik Panti Gowindo, Panti Asuhan St. Theresia, Panti Werdha Pangesti, RS Siti Mariam, Klinik Panti Palimirma, Klinik Panti Rahayu, Klinik Panti Siwi, dan Stikes Panti Waluya.

Di Keuskupan Ruteng mereka mengelola Klinik Panti Nirmala di Karot.

Ikut Merayakan 80 Tahun di Indonesia

Rabu, 22 April 2009, bertepatan dengan 80 tahun kehadiran para Suster Misericordia di Keuskupan Malang, saya menghadiri perayaan jubilium membiara dari enam suster yang berbahagia: Sr. Marie Eugenia Th. Hardiati (50 tahun membiara); Sr. Paulo M.M. Sukarmi & Sr. Laurentia V. Samini (40 tahun membiara); Sr. Redempta Poniah, Sr. Fransisca Sri Mulat Wuryaningsih dan Sr. Gregoria Maria P. Wagini (25 tahun membiara). Perayaan Ekaristi di kapel biara induk (Provinsialat), Jalan Jayagiri 20 Malang, dipimpin langsung oleh Bapak Uskup Malang pada waktu itu, Mgr. Herman Joseph Pandoyoputra OCarm.

Saya sempat mengunjungi Sr. Marie Euginia Misc di Biara Jayagiri, Malang, 8 Juni 2016, tiga tahun sebelum ia meninggal dunia di RKZ Panti Waluya Sawahan, Malang, 4 Februari 2019, pukul 11.30 WIB

Semoga kongregasi para suster Miscericordia terus berkembang dalam pelayanannya, memberikan kasih kepada semua mereka yang membutuhkan uluran tangan para suster.

Semoga semakin banyak anak-anak muda yang tertarik mengikuti jejak Santa Maria Magdalena Postel.

Jakarta, 31 Mei 2021

R.D. Agustinus Surianto Himawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s