IN MEMORIAM: PATER CLEMENS SCHREURS CICM

“Romo, mengapa gedung KWI ini harus dirobohkan dan diganti baru?”, begitulah protes terakhir Pater Clemens ketika ia masih sempat mampir ke gedung di Cut Meutia tahun lalu sebelum dibongkar. “You yang ambil keputusan seperti itu? Apakah tidak ada cara lain?”, tegasnya dengan mata melotot setengah marah.

Itulah kalimat protes Pater Clems, begitu ia biasa dipanggil, ketika mampir ke Kantor KWI di Cut Meutia 10, Menteng, Jakarta Pusat. Dan itu diungkapkannya di lobby depan lift lantai 1 persis di depan ruangan Sekretariat Jenderal. Menghadapi amarah besarnya itu, saya hanya mengatakan, “… keputusan membangun gedung baru bukanlah keputusan saya, tetapi keputusan para uskup, saya hanya melaksanakan segala yang menjadi keputusan para petinggi itu”.

Gedung KWI, sebagaimana berbagai gedung dan lembaga lainnya yang berada di bawah KWI, memang merupakan hasil karya tangan dingin seorang Clemens Schreurs. Terlalu banyak yang ia rintis, ia bangun, ia kerjakan, yang kemudian ia wariskan kepada generasi berikutnya. Setengah abad ia berkiprah di KWI sebagai Kepala Departemen Keuangan (1968-1999), masih dilanjutkan menangani berbagai lembaga warisannya sampai Mei 2019 yang lalu, ketika usia tua membuatnya harus keluar-masuk rumah sakit. Semua hal ini membuatnya amat cinta dengan warisan karyanya itu. Jadi, wajar ketika ada sesuatu terjadi, seakan hatinya tersakiti juga.

2019 09 18 Pater Clems 3
Buku Perayaan 60 Tahun Tahbisan Imam Pater Clemens Schreurs CICM di Lantai 4 Gedung KWI, 28 Oktober 2016
2019 09 18 Pater Clems 4
Mengenakan kasula khusus yang dibuat untuk merayakan Pesta Intan Imamatnya, Pater Clems turut memimpin Misa Kudus

Para uskup sejak sidang tahunan November 2017 memang telah bersepakat untuk membangun dan meremajakan gedung kantor di area yang sama karena mereka menyadari betapa pelayanan di masa kini sudah tidak bisa diakomodasi di gedung lama, yang dibangun pertengahan 80-an, tigapuluhan tahun lalu itu. Maka, kalau para uskup saat ini menerawang jauh ke depan, katakanlah 30 tahun ke depan, wajar ketika mereka memikirkan sebuah tempat berkarya yang lebih sesuai zamannya juga. Segala hal yang mungkin terjadi di masa depan, jelas harus diantisipasi, dipikirkan sejak sekarang, kalau kita tidak mau ketinggalan kereta.

Rencana peremajaan gedung KWI tampaknya sungguh membekas dalam hatinya. Saat saya membezuknya di Sint Carolus beberapa waktu yang lalu, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah, “bagaimana IMB Gedung KWI, apakah sudah keluar?”

Bapak yang Baik Hati

Tahun 1996 sebagai Ekonom Keuskupan Bogor, bersama Bapak Uskup Michael Angkur OFM, saya harus mengambil keputusan membubarkan Yayasan DKPKB (Dana Kesejahteraan Pegawai Keuskupan Bogor), yaitu sebuah lembaga dana pensiun milik keuskupan Bogor yang dikelola amat amatiran, hanya bermodalkan niat baik para pendahulu namun kurang memperhatikan prinsip manajemen yang benar. Keputusan yang amat pahit, namun harus diambil demi menyelamatkan sekian banyak karyawan dari lembaga-lembaga di bawah Keuskupan Bogor yang mempercayakan hari tua karyawannya pada Yayasan DKPKB.

Ada sekian skenario yang kami siapkan untuk diputuskan terkait “nasib” Yayasan DKPKB ini. Masing-masing tentu dengan segala konsekuensi. Palu akhirnya diketuk, final sudah. Yayasan DKPKB di’akuisisi’kan ke Yayasan DHT-KWI (Dana Hari Tua KWI), cikal bakal Dapen KWI, yang dinahkodai oleh Pater Clems sendiri. Komposisi kepesertaan diatur sedemikian rupa mengikuti kemampuan keuangan Keuskupan Bogor. Sebagai Bapak yang baik hati, Pater Clems mencarikan donator yang bisa meringankan beban kas Keuskupan Bogor. Angkanya tidak sedikit, setengah milyar rupiah, dengan nilai uang sebelum krismon melanda Indonesia.

Penggabungan sebagian besar peserta Yayasan DKPKB ke dalam Yayasan DHT-KWI (kini Dapen KWI) mengakhiri segala ketidakpastian masa depan. Langkah berikutnya tentu pemberesan internal harus dilakukan oleh pimpinan Keuskupan Bogor.

Mantan Direktur Keuangan OBOR

Salah satu lembaga milik KWI yang menjadi bukti tangan dingin Pater Clems adalah OBOR, sebuah toko buku dan penerbitan yang sebelumnya dikelola oleh 4 tarekat imam misionaris tertua di Indonesia. Tahun 1979, sebagai Kepala Departemen Keuangan KWI, ia mengambil alih pengelolaan OBOR, setelah 4 komisarisnya bersepakat untuk melepaskan karya ini dan mempercayakannya kepada pihak KWI, yang dulu masih bernama MAWI (Majelis Agung Waligereja Indonesia). Supaya OBOR bisa berjalan dengan baik, maka pengelolaan keuangan langsung diawasi oleh Pater Clems yang bertindak sebagai Direktur Keuangannya.

2019 09 18 Pater Clems 5 6
Mgr. Petrus Boddeng Timang, Uskup Keuskupan Banjarmasin, masih bocah cilik saat Pater Clemens Shreurs CICM bertugas sebagai pastor di Tana Toraja tahun 1959-1961
2019 09 18 Pater Clems 5 7
Ketua KWI, Mgr. Ignatius Suharyo (kini Kardinal) memimpin konselebrasi Misa Pesta Intan Pater Clemens, 28 Oktober 2016. Di kanan-kirinya adalah para karyawan senior OBOR yang turut mengalami dibentuk dan dibina oleh Pater Clems

Namun, nasib OBOR sejak didirikan, sebagaimana banyak lembaga milik Gereja, “nasib”-nya selalu pasang surut mengikuti arus kuat yang mengelilinginya akan membawa ke arah mana. Dalam buku 200 Tahun Gereja Katolik di Jakarta (Penerbit CLC, 2007), Adolf Heuken SJ memberi catatan kritis tentang OBOR, “meskipun telah diambil alih KWI namun kondisinya hampir tidak berubah (menjadi jauh lebih baik)..” karena sekian puluh tahun tetap terseak-seok dan jatuh-bangun dengan berbagai rupa tampilan. Almarhum Adolf Heuken SJ (meninggal: 25 Juli 2019) adalah Komisaris Utama Yayasan Ekapraya (pengelola OBOR sebelumnya) yang menandatangani dan menyerahkan Lembaga ini kepada KWI.

Entah bagaimana caranya, mungkin suratan takdir, saya pun turut ambil bagian mengelola OBOR selama 3 periode, mulai 2 Jan 2007 s.d. 31 Des 2015. Mendengar saya bergabung di OBOR, pada suatu ketika di tahun pertama kehadiran saya di sana, Pater Clems datang berkunjung. Sapaan pertama ketika ia masuk kantor saya adalah kalimat “you are the right man on the right place, here…!” Entah apa yang ada di benak Pater Clems, yang jelas ia memang mengenal saya sudah cukup lama, memahami cara kritis saya berbicara kepadanya, dan berani mendebatnya. Padahal pada waktu itu, praktis saya belum berbuat apa-apa, masih dalam suasana wait and see.

Bisa jadi saat itu ia berharap banyak dari saya, orang yang baru “dicemplungkan” begitu saja oleh para uskup untuk mengelola salah satu warisan Pater Clems, yang katanya selalu pasang-surut sepanjang sejarah. Memang tugas utama saya waktu itu adalah memberi kepastian kepada para uskup, apakah OBOR akan dipertahankan, atau dibubarkan.

Sabtu pekan lalu, pada Pesta Salib Suci, 14 September 2019, ada perayaan meriah 70 tahun OBOR di aula lantai 7. Banyak undangan hadir, termasuk mereka yang telah ikut ambil bagian dalam sejarah keberadaan OBOR sepanjang tujuh dasawarsa ini.

Saat itu, dalam keheningan ruang ICU, Pater Clems turut menyatukan hatinya dalam doa agar Penerbit & Toko Rohani OBOR, salah satu warisannya ini bertahan lama. Sabtu siang itu, sepulang menghadiri acara, saya menerima kabar dari bu Paula Simatupang, “Romo, pagi tadi, Pater Clems kondisinya anjlok sehingga dipindah ke ruang ICU RS St. Carolus”.

Teman Sekantor

Kantor Dana Pensiun KWI berlokasi di kompleks Podomoro City, Jakarta Barat. Meskipun sudah tidak bisa aktif penuh waktu, namun secara berkala Pater Clems masih datang berkantor di sana. Ada Pak Maman, supir setianya, yang selalu mengantarkannya ke mana pun ia akan pergi, termasuk pulang-pergi ke kantor.

Saya pernah setahun menjadi pengurus Dana Pensiun KWI (2015-2016). Mengingat sempitnya kantor, saya ditempatkan seruangan dengan Pater Clems di lantai 3, ia di bagian kiri, saya di bagian kanan persis di belakang pintu. Meskipun usianya sudah kepala delapan, Pater Clems masih mengerjakan berbagai hal terkait urusan yang menjadi tanggungjawabnya. Ada banyak sharing yang saya sempat dengar selama sekantor dengannya. Ada banyak cerita gembira, tapi juga ada cerita tentang kekecewaan yang disampaikannya di ruangan ini.

Mengingat kesibukan yang semakin bertambah di kantor KWI, kerja rangkap harus saya akhiri dengan mengundurkan diri dari kepengurusan Dana Pensiun KWI sehingga terbebas dari segala urusan rutin bercabang ini. Hari terakhir berkantor saat saya pamitan kepada semua karyawan & staf Dana Pensiun KWI kebetulan Pater Clems sedang tidak ada, saya juga lupa apakah ia sedang cuti atau ada alasan apa karena cukup lama kami tidak bertemu di kantor bersama ini.

2019 09 18 Mengunjungi Pater Clems
Saya bersama Rama FX Sutanto (kiri, Direktur OBOR saat ini) mengunjungi Pater Clemens Schreurs yang dirawat di Rumah Sakit St. Carolus pada tahun 2016

Suatu hari, setelah 1-2 minggu saya tidak lagi di Dana Pensiun KWI, Pater Clems menelepon saya, “Agust, apakah you keluar dari Dana Pensiun karena saya?”. Rupanya ada rasa tidak enak dalam hatinya karena saya mundur dari Dapen KWI yang baru setahun saya jalani. Maka saya jelaskan bahwa saya mengundurkan diri bukan karena ada masalah dengannya, tetapi karena ada alasan pribadi yang membuat saya mengambil keputusan hanya mau berkonsentrasi di satu tugas saja, yaitu melayani penuh waktu di Kantor KWI.

Untunglah, ia bisa memahami alasan yang saya utarakan dan tidak merasa bahwa saya mundur karenanya. Bagi saya, sekantor dengan siapapun tak menjadi masalah, apalagi di zaman sekarang kan kehadiran kantor bukanlah hal penting untuk bekerja. Semua serba virtual, termasuk kantor juga ada virtual office-nya.

Pater Clemens, guru dan sahabatku, selamat jalan yah!

Jakarta, 18 September 2019

Agust Surianto Himawan

Satu respons untuk “Selamat Jalan Pater Clemens

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s