MIMPI

Ketika lagi kuliah di Bandung, muncul sebuah lagu yang liriknya bicara tentang “mimpi”.

Yah, mimpi diangkat sebagai lirik lagu oleh ABBA, I Have a Dream, yang dirilis pada 7 Desember 1979 oleh Polar Music. Penulis sekaligus produser lagu ini adalah Benny Andersson dan Björn Ulvaeus. ABBA adalah grup musik pop yang dibentuk di Stockholm, Swedia, pada 1972, beranggotakan 4 orang, yaitu Agnetha Fältskog, Björn Ulvaeus, Benny Andersson, Anni-Frid Lyngstad (Frida). Pada 1974 mereka berhasil menjuarai Eurovision Song Contest di Brighton, Inggris.

I have a dream, a song to sing
To help me cope with anything
If you see the wonder of a fairy tale
You can take the future even if you fail…

I believe in angels
Something good in everything I see
I believe in angels
When I know the time is right for me
I’ll cross the stream – I have a dream…

I have a dream, a fantasy
To help me through reality
And my destination makes it worth the while
Pushing through the darkness, still another mile…

I Have a Dream meledak di banyak negara menjadi hit kaum muda masa itu. Inspiratif. Mengajak orang untuk memandang masa depan dengan sebuah harapan, sekaligus tantangan yang harus dihadapi. Akan seperti apa kelak? Tak jadi masalah, ketika orang memiliki arah masa depan untuk hidupnya sendiri. Mimpi, impian, idealisme bisa menuntunnya untuk sukses, dengan jatuh bangun tentunya juga.

Sejatinya, inspirasi perbincangan I Have a Dream sebagai ‘frasa’ dimulai oleh Martin Luther King Junior, pembela dan pejuang gigih bagi emansipasi, persamaan hak antarwarga Amerika Serikat, terutama bagi kalangan minoritas kulit hitam yang semakin terpinggirkan dalam kancah sosialitas di sana. I Have a Dream adalah judul pidato yang disampaikannya di Lincoln Memorial, Washington DC, 28 Agustus 1963, di hadapan dua ratusan ribu peserta pawai para pekerja untuk memperjuangkan hak-hak sipil.

I Have a Dream sendiri sebenarnya bagian penutup pidato yang disampaikannya out of the text, hasil improvisasi hatinya yang bergelora menyaksikan semangat para peserta pawai saat itu. Menariknya, hal ini kemudian menjadi bagian paling populer, menyentuh hati banyak orang pada waktu itu. Juga menyentuh hati penduduk Amerika yang belum lahir waktu Martin Luther berpidato, bahkan sampai saat kini.

Berbahagialah kalau kita mempunyai mimpi. Lebih berbahagia kalau kita bisa membumikan mimpi itu. Kalau mau disempurnakan kira-kira begini: Amat berbahagialah  mereka yang bisa mewujudkan mimpi-mimpinya itu.

Selamat bermimpi…!