KAMPRET

Termasuk Ordo Chiroptera (kelelawar) sebagaimana saudara sepupunya, para kalong alias codot. Kelelawar adalah mamalia yang bisa terbang. Dinamai mamalia karena melahirkan dan menyusui.

Keluarga besar kelelawar semuanya bersayap dan bisa terbang, namun mereka bukanlah unggas (burung) karena mereka tidak bertelur. Kelelawar dikenal sebagai hewan nokturnal, beraktivitas di malam hari dan tidur saat siang terang benderang.

Kampret digolongkan dalam sub ordo Microchiroptera (microbat, kelelawar kecil) yang hidup sebagai pemakan serangga. Saudara sepupunya, kalong alias codot, masuk golongan sub ordo Megachiroptera (megabat, kelelawar besar), karenanya secara fisik lebih besar daripada para kampret dan mereka hidup sebagai herbivora yang gemar menyantap buah-buahan, sehingga “amat berpotensi” menjadi saingan kita para manusia.

250px-Big-eared-townsend-fledermausAtas: kampret. Bawah: codot, kalong (foto Wikipedia)

Bedanya Codot dengan Kampret

Sebagai sesama penggemar buah-buahan, maka kata kalong atau codot tidak bermakna negatif bagi manusia. Sebaliknya, kata kampret berkesan peyoratif loh, sehingga orang bisa memaki-maki temannya dengan sebutan “dasar kampret loe….!”

Di sini lain ada juga yang memaknai kampret secara emelioratif, positif, artinya “sayang”, sehingga muncul kalimat “halo prét kau ke mana?”, “hai prét sini dong”, hahaha..

Migrasi Para Kampret

Kampret juga bisa menjadi objek kritik sosial dari penyair F. Rahardi dalam Migrasi Para Kampret, sebuah prosa lirik yang dihadirkan dalam buku kumpulan puisi terbitan Puspa Swara tahun 1993. Isinya tentang kampret-kampret yang tergusur dalam berbagai dimensi, hasil kreativitas, keseriusan, dan juga (sekaligus) kejenakaan seorang F. Rahardi. Acara peluncuran diadakan di Teater Arena Taman Ismail Marzuki, Senin, 5 Juli 1993, meskipun sebelumnya direncanakan di halaman terbuka bagian belakang TIM dengan informasi yang hanya dari mulut ke mulut.

Kampret 2

Mengapa diam-diam infonya, dan diadakan di tempat terbuka? F. Rahardi punya alasan sendiri, “Takut pembacaan puisi saya dilarang lagi. Dipilihnya halaman terbuka juga lantaran tak ada dana”. F. Rahardi memang pernah dilarang tampil di TIM saat membacakan kumpulan puisi Soempah WTS (1984) dan Catatan Harian Koruptor (1986).

Kampret adalah objek, sekaligus subjek dalam Migrasi Para Kampret yang dituangkan dengan gaya satire, yang sinis, namun kocak dan komunikatif. Kampretlah yang dipilihnya, bukan codot alias kalong, sebuah pilihan yang pas, tepat dan situasional kala itu. Lalu, siapakah kampret-kampret itu?

 

Di keheningan Gunung Sahari, setelah berakhirnya May Day 2018
Agust Surianto Himawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s