Dalam kalender liturgi Gereja Katolik, hari ini, 12 Desember merupakan Peringatan Bunda Maria dari Guadalupe. Guadalupe? Apaan sih? Guadalupe merujuk pada Bunda Maria yang menampakkan diri setiap hari kepada Juan Diego, mulai tanggal 9 sampai 13 Desember 1531 di sebuah bukit bernama Bukit Tepeyac, di utara Tenochtitlan (kini México City, Ciudad de México).

Siapakah Juan Diego? Nama aslinya Cuāuhtlahtoātzin (arti: “Elang yang Berbicara”), seorang laki-laki Indian Aztec yang lahir di Cuautitlán pada tahun 1474 (meninggal 30 Mei 1548). Juan Diego (=Yohanes Yakobus) adalah nama baru yang disandangnya sejak dibaptis menjadi Katolik tahun 1524. Ia termasuk generasi awal penduduk asli yang mengenal iman Katolik melalui para misionaris fransiskan asal Spanyol. Bangsa Indian Aztec ditaklukkan oleh Spanyol pada 1521.

Bunda Maria dalam penampakan pertama kepada Juan Diego memperkenalkan dirinya sebagai Bunda Allah yang tetap perawan. Bunda Maria meminta agar di lokasi ini dibangun sebuah kapel, yang akan dijadikan sarana untuk meringankan derita orang-orang yang membutuhkan bantuan Bunda Maria. Pada penampakan-penampakan berikutnya terjadi beberapa mukjizat yang membuat Mgr. Juan de Zumárraga OFM, uskup setempat, menjadi percaya setelah melihat bukti-bukti mukjizat yang diperlihatkan oleh Juan Diego.

Setelah peristiwa iman ini, dalam kurun waktu tak lebih dari satu dasawarsa terjadi pertobatan 8 juta orang menjadi Katolik.

Penampakan Bunda Maria di Guadalupe, México, terjadi jauh sebelum peristiwa Lourdes (1858). Namun Lourdes lebih memesona banyak orang di kawasan Eropa, kemudian menyebar ke mana-mana. Lourdes terus berkembang menjadi tempat peziarahan paling favorit. Apalagi lokasi kejadiannya tak jauh-jauh amat dari Roma, pusat Gereja Katolik sejagad.

Peristiwa di Guadalupe memang kalah terkenal, bahkan juga bagi kita di Indonesia, meskipun itu terjadi 327 tahun lebih dulu dari Lourdes (1858). Bisa jadi karena kelewat jauh lokasinya sehingga beritanya hanya sayup-sayup terdengar.



WARISAN IMAN BAGI GEREJA

Tanda mukjizat Guadalupe yang terpatri kokoh dalam sejarah kekatolikan di México adalah sebuah “tilma”, yaitu sejenis mantol tradisional Indian Aztec, dibuat dari serat kaktus yang kasar, yang dikenakan oleh Juan Diego.

Ketika Juan Diego menghadap Uskup Zumárraga, lalu membuka ‘tilma’-nya sekonyong-konyong terjadi keajaiban karena di sana tercetak citra diri Bunda Maria, serta bertaburanlah bunga mawar ke lantai. Bunga mawar itu dipetik oleh Juan Diego di Bukit Tepeyac atas perintah Bunda Maria. Padahal, mana mungkin bunga mawar bermekaran di musim dingin

Pada ’tilma’ itu Bunda Maria digambarkan dengan bulan di kakinya, mantelnya ditutupi dengan bintang-bintang, dan seorang malaikat menopangnya. Ia sedang hamil, seperti yang ditunjukkan oleh ikat pinggang hitam di pinggangnya.

Pada pupil mata Bunda Maria yang diperbesar 2500 kali dalam penelitian menggunakan teknologi modern terpantul gambar Juan Diego, Uskup Zumárraga dan beberapa orang di sekelilingnya ketika Juan Diego membuka ‘tilma’ di rumah sang uskup. Lengkungan gambar yang terpantul juga mengikuti lengkungan kornea mata manusia sesuai sudut pandang mata kanan dan mata kiri.

Tilma ini sampai sekarang disimpan di atas, pada bagian belakang altar utama Basilica Our Lady of Guadalupe, yang dibangun di kaki bukit Tepeyac beberapa saat setelah penampakan namun telah beberapa kali diremajakan. Anehnya, ‘tilma’ tetap utuh, gambar aslinya juga masih bertahan dengan baik meskipun usianya mendekati 500 tahun. Padahal bahannya terbuat dari serat kaktus berkualitas rendah yang normalnya hanya bertahan 20-an tahun.

Santo Juan Diego

Paus Santo Yohanes Paulus II merupakan pimpinan tertinggi Gereja Katolik yang paling sering mengunjungi Guadalupe. Pada masa pontifikatnya, Juan Diego (1474-1548) dinobatkan sebagai beato (6 Mei 1990), kemudian sebagai Santo (31 Juli 2002). Tak tanggung-tanggung, Paus Yohanes Paulus II memimpin upacara beatifikasi, maupun kanonisasinya, langsung di Basilika Our Lady of Guadalupe, Mexico City.

Dampak spiritual dari penampakan di Guadalupe adalah lahirnya rasa percaya diri yang kuat dan iman yang semakin kokoh, bahwa (meskipun mereka saat itu dijajah Spanyol) Allah tidak membiarkan mereka sendirian dalam keterpurukan. Mereka sama berharganya di mata Allah sehingga Bunda Allah berkenan menghadirkan diri untuk menyampaikan pesan kasihnya kepada mereka. Allah selalu hadir dalam kehidupan umat-Nya, terlebih saat mereka berada dalam situasi tersulit.

Depok, 12 Desember 2024

Agustinus Surianto Himawan

Tinggalkan komentar