Cerita tentang Sinterklas adalah sebuah cerita rekaan yang bersumber dari sebuah contoh kebajikan kristiani yang dilakoni oleh Santo Nicolaus, Uskup dari Myra di Afrika.

Sinterklas atau Santa Claus menjadi begitu akrab dalam hidup anak-anak di sekitar perayaan natal, meskipun pesta Santo Nicolaus sendiri dirayakan setiap tanggal 6 Desember. Perayaan khusus untuk anak-anak umumnya dilakukan di tempat tertentu dengan menhadirkan sosok sang santo yang berpakaian elegan laksana seorang uskup, membagi-bagikan hadiah kepada anak-anak yang rajin. Kehadirannya selalu diikuti Piet Hitam, yang siap mendapat perintah untuk memberi hukuman kepada anak-anak yang nakal. Tentu saja hal tersebut harus dipandang sebagai salah satu cara pembinaan anak dan menanamkan sikap kebajikan untuk berbuat baik, membagikan kasih kepada orang lain.

20181206_224532.jpg

Di masyarakat barat, terutama di Amerika Serikat, profil Santo Nicolaus yang aslinya berpakaian seorang Uskup lengkap dengan Mitra dan Tongkatnya, berubah menjadi seorang bapak/kakek gemuk berjanggut putih, berkostum seperti badut berwarna merah, yang datang pada hari natal dengan menggunakan kereta rusa.

Sinterklas versi badut ini berkembang pesat dengan membawa pesan kebaikan bagi anak-anak melalui cara profan dunia bisnis pada umumnya. Sambil menyelam minum air, kira-kira itulah yang ada di benak pars pebisnis memanfaatkan kepopuleran figur ini

Jakarta, 6 Desember 201

Agust Surianto Himawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s