VIA DOLOROSA

Trihari Suci dalam liturgi Gereja Katolik baru saja berakhir dengan paskah, perayaan kebangkitan Yesus Kristus. Selama pekan suci liturgi diwarnai oleh suasana khidmat karena nuansa dukacita (sengsara & wafat), meskipun semua berakhir dengan sukacita (kebangkitan & kemenangan). Kasih mengakhiri segala kesalahpahaman, percekcokan, permusuhan dan dendam. Kasih menjadi jalan menuju damai dan persaudaraan.

Yesus mengakhiri karya-Nya dengan memperlihatkan totalitas cinta-Nya kepada sesama. Cinta bukanlah sekedar cuap-cuap, gombalan, omong kosong, sebagaimana ditunjukkan oleh banyak orang pada masa itu. Cintanya dibuktikan melalui tindakan nyata kepada sesama, terlebih-lebih terhadap mereka yang kecil, lemah, dan tersisihkan. Yesus melihat sesuatu, lalu hatinya tergerak, dan diikuti langkah nyata membereskan masalah. Cinta sejati dengan harga mati, kira-kira begitulah istilah pasnya.

Perwujudan “cinta” seorang manusia, bernama Yesus, tak semudah membalik telapak tangan. Niat baik tak berbanding lurus dengan kenyataan yang harus dihadapi. Perjalanan berat dan terjal mendaki Bukit Golgota (Yunani: Γολγοθα; Latin: Calvariae Locus; Ibrani: גֻּלְגֹּלֶת (gulgōleṯ); Aram: Gûlgaltâ; artinya “tengkorak”) adalah ongkos yang harus dibayar untuk membuktikan cinta-Nya yang tanpa batas itu. Perjalanan berat dan terjal mendaki Bukit Golgota ini dinamai Via Dolorosa. Asal katanya dari Bahasa Latin, via (jalan) dan dolor-dolores (sengsara, derita); the way of sorrow, the way of suffering, the painful way. Dalam huruf Ibrani ditulis ויה דולורוזה, dan dalam huruf Arab طريق الآلام.  

2013 02 The Old Jerusalem
Jerusalem Lama

Via Dolorosa kini menjadi nama jalan di dalam kota Yerusalem Lama yang diyakini sebagai jalan yang pernah dilalui Yesus saat memikul salib-Nya dua abad lalu. Meskipun lokasinya sebagian besar kini telah menjadi pasar, para peziarah yang datang dari seluruh dunia tetap dengan setia menyusurinya sambil berdoa dan melaksanakan ibadat jalan salib. Perjalanan menuju Gereja Makam Kudus (Latin: Sanctum Sepulchrum; Inggris: Holy Sepulchre) di bukit Golgota atau Kalvari akan dicapai para peziarah dengan terlebih dahulu menyusuri Via Dolorosa.

Tak ada keberhasilan yang diperoleh tanpa perjuangan. Tak ada kemenangan diraih tanpa susah payah. Tak ada “kebangkitan” tanpa derita dan kematian di kayu salib. Tak ada pengorbanan yang sia-sia terutama pengorbanan demi kemanusiaan (Matius 25:40).

Via Dolorosa & Sandi Patty

Peristiwa Yesus di jalan salib ini telah menginspirasi seorang penyanyi lagu-lagu rohani bernama Sandi Patty (Sandra Faye Patty), yang lahir di Oklahoma City, 12 Juli 1956. Kisah lama yang sudah dianggap “barang biasa” dan sudah menjadi dongeng anak-anak sebelum tidur itu ingin disampaikan dengan cara baru yang berbeda karena lebih segar dan artistik, yaitu menggunakan media lagu.

Lahirlah lagu Via Dolorosa dalam album Songs From The Heart pada tahun 1984 yang dalam waktu singkat menggugah banyak orang untuk merefleksikan hidupnya bercermin pada peristiwa Yesus. Via Dolorosa menjadi salah satu gospel songs yang menyentuh kalangan kristiani, sehingga amat populer pada waktu itu. Lima tahun kemudian, lagu Via Dolorosa ditampilkan kembali dalam album kompilasi Sandi Patty berjudul The Finest Moment.

sandi-patty-2013-billboard-650
Sandi Patty (foto Billboard)

Penggunaan dua Bahasa, Inggris dan Spanyol, telah turut mendongkrak popularitas lagu Via Dolorosa. Bahasa Spanyol menjadi Bahasa penting bagi warga Amerika Serikat karena populasi imigran kristiani berbahasa Spanyol terbilang cukup besar. Dari total sekira 350 juta jiwa penduduknya, populasi Amerika Hispanik mencapai lebih dari 57,5 juta jiwa pada 2016. Lebih dari 15 juta jiwa (25%) kaum hispanik menetap di negara bagian California.

Simak syair lirik lagunya:

Down the Via Dolorosa in Jerusalem that day  –  The soldiers tried to clear the narrow street – But the crowd pressed in to see  –  The Man condemned to die on Calvary

He was bleeding from a beating, there were stripes upon His back  –  And He wore a crown of thorns upon His head  –  And He bore with every step  –  The scorn of those who cried out for His death

Down the Via Dolorosa called the way of suffering  –  Like a lamb came the Messiah, Christ the King  –  But He chose to walk that road out of  –  His love for you and me.

Down the Via Dolorosa, all the way to Calvary…

Por la Via Dolorosa, triste dia en Jerusalem  –  Los saldados le abrian paso a Jesus  –  Mas la gente se acercaba  –  Para ver al que llevaba aquella cruz

Por la Via Dolorosa, que es la via del dolor  –  Como oveja vino Cristo, Rey, Senor  –  Y fue El quien quiso ir por su amor por ti y por mi  –  Por la Via Dolorosa al Calvario y a morir…

The blood that would cleanse the souls of all men  –  Made it’s way through the heart of Jerusalem… 

Down the Via Dolorosa called the way of suffering  –  Like a lamb came the Messiah, Christ the King  –  But He chose to walk that road out of His love for you and me 

Down the Via Dolorosa, all the way to Calvary…

Jakarta, Jumat Agung 30 Maret 2018

Agustinus Surianto Himawan

2 respons untuk ‘Via Dolorosa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s