WAKTU ITU – 2 FEBRUARI 1983

“…ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, Yusuf & Maria membawa bayi Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah …”

Kutipan yang diambil dari Injil Lukas 2: 22-23 tersebut menjadi fondasi penting bagi tradisi liturgi Katolik untuk menetapkan sebuah perayaan istimewa, Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah, yang selalu jatuh pada tanggal 2 Februari. Hitung-hitungannya sederhana sekali, yaitu hari ke-40 setelah Natal. Karena Natal ditetapkan jatuh pada 25 Desember maka hari ke-40 pasti jatuh pada 2 Februari setiap tahunnya.

Terserah orang mau memperdebatkan tanggal kelahiran Yesus seperti apa dan kapan, namun yang paling penting bagi orang beriman Katolik adalah keyakinan bahwa Allah menjelma menjadi manusia dalam pribadi Yesus, yang dilahirkan oleh Maria, bunda kandungnya, di Bethlehem. Sesuai dengan tradisi Yudaisme yang dianut keluarga besarnya, kanak-kanak Yesus sebagai anak laki-laki sulung harus dipersembahkan kepada Allah pada hari yang pas menurut tradisi keagamaan mereka. Gereja Katolik di kemudian menetapkan hari-hari dan tanggal-tanggal khusus untuk merayakan peristiwa iman tersebut secara turun-temurun.

Mempersembahkan Hidup bagi Allah

Menyusuri garis waktu perkembangan sejarah Gereja,  di kemudian hari tanggal 2 Februari dipilih  menjadi hari yang pas untuk melaksanakan berbagai kegiatan istimewa, seperti penahbisan romo, pengucapan kaul bagi kalangan biarawan-biarawati, penerimaan busana calon romo maupun biarawan-biarawati. Konteksnya amat tepat, yaitu menyerahkan hidup ke dalam rencana Ilahi sesuai tradisi Katolik untuk hidup dalam ketaatan, kemurnian, dan kesederhanaan. Dalam kelemahan kemanusiaannya, yang bersangkutan akan mewujudkan pesan injil melalui pribadinya sepanjang hidupnya untuk menyucikan dirinya dan sesamanya bagi kemuliaan Allah yang diimaninya.

Para Postulan Suster SFS menerima busana biara di Kapel Suster SFS, Bunut, Sukabumi, 1 Februari 2021 (Foto dari Instagram Emiliana Taslulu SFS)
Sr. M. Meilani SFS mengucapkan kaul sementara dalam Tarekat Suster SFS di Kapel Bunut, Sukabumi, Selasa 2 Februari 2021 (foto dari kanal youtube Emilia Taslulu SFS)

Mereka manusia biasa, sama dengan kebanyakan orang. Namun, sebagaimana kanak-kanak Yesus dipersembahkan kepada Allah oleh kedua orangtuanya agar menjadi milik Allah, begitu pula generasi muda sesuai zamannya masing-masing itu, bergiliran dengan kesadaran penuh memilih membaktikan hidupnya bagi Allah melalui sesama dan Gereja yang dilayaninya sesuai perutusan yang diterimanya melalui pimpinannya. Kemanusiaannya tetap utuh, namun dengan kekuatan rahmat Allah, mereka akan berusaha hidup berbeda dengan masyarakat umum karena penghayatan total  pada tiga nasihat injil; ketaatan, kemurnian, dan kesederhanaan.

Tahun 1983 Menjadi Tonggak Baru

Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah, 2 Februari 1983, menjadi awal tradisi pemberkatan dan penerimaan jubah bagi para frater di Seminari Tinggi Petrus-Paulus, Buah Batu, Bandung. Waktu itu seminari milik Keuskupan Bogor ini masih menjadi seminari interdiosesan yang mendidik calon-calon imam dari belasan keuskupan di Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Papua.

Tradisi baru ini diprakarsai oleh para frater angkatan 1982, yang amat didukung oleh Mgr. Petrus Marinus Arntz OSC (Uskup Bandung, 1952-1984), Mgr. Ignatius Harsono (Uskup Bogor, 1975-1993) dan Mgr. Prof. Dr. Nicolaus Johannes Cornelius Geise OFM (Uskup Bogor 1961-1975 & Rektor Seminari). Bahkan Mgr Arntz pula yang mengusulkan tanggal tersebut sebagai waktu yang pas bagi para frater untuk menerima busana khusus, jubah, yang membedakan mereka dengan pemuda lainnya, yang membedakan mereka dengan para mahasiswa lainnya di perguruan tinggi tempat mereka menempuh pendidikan. Jubah kini menjadi ciri para pemuda tersebut untuk mulai meninggalkan “dunia lamanya” dan memulai sebuah kehidupan baru sebagai frater, calon romo pada Gereja Katolik.

Rabu, 2 Februari 1983 di Gereja Santa Maria Tak Bernoda, Buah Batu, Bandung: Mgr. PM Artnz OSC, Mgr. Ign. Harsono, dan Mgr. N.J.C. Geise OFM (Ki-Ka)

Sejak hari itu, setiap tahun acara penjubahan dilakukan rutin pada tgl 2 Februari dan telah menjadi tradisi di Seminari Tinggi ini. Saat di mana sejumlah pemuda menyerahkan masa muda dan kebebasannya untuk dibentuk secara khusus menjadi “kaum berjubah”, sesuai tradisi Gereja yang terawat berabad-abad. Dan, harap diketahui bahwa tidak semua pemuda (dan pemudi) begitu mudahnya menggunakan jubah. Di balik jubah, ada martabat, ada hakikat, ada makna dan nilai luhur orang yang menggunakannya.

Semoga hari ini, Selasa, 2 Feb 2021 menjadi hari istimewa bagi banyak pemuda yang tergetarkan hatinya oleh doa-doa yang diucapkan banyak orang dalam perayaan misa, baik yang dilaksanakan secara langsung, maupun yang secara daring.

Jakarta, 2 Februari 2021

Agustinus Surianto Himawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s