OBITUARI – Pater E.J. Rijper OFM

Nama E.J. Rijper OFM cukup dikenal oleh banyak umat Katolik yang kini usianya sudah setengah baya, khususnya umat dari Keuskupan Bogor, atau dari Paroki Kramat dan Cempaka Putih (d.h. Tanah Tinggi) di KAJ, yang dilayani oleh para fransiskan.

Edestius Johanes Rijper lahir di Beemster (Belanda), 2 April 1926. Tiba di Jakarta sebagai imam muda fransiskan pada tahun 1950. Memperoleh kewarganegaraan RI pada 29 Juni 1961 melalui Keppres No. 340, 29 Juni 1961. Hari Senin, 22 Juni 2015, ia meninggal dunia di Belanda dalam usia 89 tahun.

Saya mulai mengenal Pater Rijper OFM saat menerima komuni pertama di Katedral Bogor, 15 Agustus 1970. Saat itu ia menjadi pastor parokinya. Barusan mencoba mencari foto-foto tua, namun tidak menemukan foto komuni pertama tersebut.

Pater Rijper bertugas di Katedral hanya sebentar. Sebelumnya, ia pernah bertugas di Tanah Tinggi (kini Cempaka Putih) dan Kramat. Juga pernah di Cicurug, yang waktu itu menjadi biara pusat fransiskan Indonesia, lalu ke Sukabumi, Serang/Banten, dan Sukasari. Tugasnya sebagai pastor paroki Katedral Bogor tidaklah lama, karena kemudian dia kembali lagi ke Sukasari, tukar tempat dengan Pater Jan Pruim OFM. Gereja St. Fransiskus Assisi, Sukasari, dirombak total bentuknya menjadi sebuah gereja pada saat ia menjadi pastor parokinya. Diresmikan tahun 1975 oleh Mgr. Ign. Harsono.

Ketika Mgr. Ign. Harsono menjadi Uskup Bogor (1975), Pater Rijper OFM ditunjuk menjadi Vikjennya, sampai kemudian ia digantikan oleh Yustinus Semiun pada 1983. Setelah itu, Pater Rijper berpindah-pindah ke Cibinong, pindah lagi ke Sindanglaya, dan berakhir di Wisma Keuskupan A. Yani 31, sebelum pulang ke Belanda pada medio 90-an. Ia sangat dekat dengan kaum muda. Saat ia menjadi pastor paroki, segala keperluan bagi anak-anak muda berkumpul disediakannya, seperti alat-alat musik dan olahraga. Satu-satunya paroki yang ada “sasana tinju” kecil-kecilan, mungkin hanya di Sukasari. Paroki yang amat dicintai oleh fransiskan bermata satu ini.

Saya bersyukur sempat menikmati suasana paroki ini selama empat tahun (14 Feb 1989 s.d. 11 Apr 1993), sebagai diakon dan imam balita di Keuskupan Bogor. Cita rasa estetika seorang Rijper tercermin saat dia merombak gedung eks sekolah (Chung Cheng Chinese Methodist School) itu menjadi gedung gereja Santo Fransiskus Assisi, yang panti imamnya berlatar belakang Gunung Salak secara utuh dengan empat puncaknya. Di tempat ini juga, imamat saya dikuatkan melalui sebuah proses reformasi batiniah yang membekas sepanjang usia.

Pater Rijper beristirahatlah dalam damai.

Jakarta, 23 Juni 2015

Agustinus Surianto Himawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s